Penelitian yang dilakukan pada sebuah mumi berusia 4.000 mengungkapkan kepercayaan masyarakat Mesir kuno bahwa burung dapat mengawetkan dan melindungi mumi setelah mati.

Mumi berjenis kelamin wanita tersebut sebelumnya ditaruh di Barnum Museum, Connecticut namun kemudian dipindahkan ke Quinnipiac University guna di analisa menggunakan pemindai canggih.

Uji coba tersebut akhirnya menjawab teka-teki keberadaan bungkusan misterius di dalam tubuh mumi. Setelah diselidiki, diketahui bahwa bungkusan tersebut berisi burung yang sengaja dibunuh dan diawetkan sebagai bentuk persembahan terhadap Dewa. Berdasarkan catatan sejarah, persembahan tersebut juga dimaksudkan untuk menjaga dan melindungi wanita yang meninggal itu saat memasuki kehidupan alam baka. Demikian keterangan yang dikutip dari Daily Mail, Jumat (15/1/2010).

Pemindai canggih tersebut juga membantu para ilmuwan mengetahui lebih banyak hal sewaktu wanita tersebut masih hidup, termasuk usia dan jumlah anak yang dimilikinya.

Mumi yang dinamakan Pa-Ib ini diyakini sebagai manusia yang berasal dari abad 2.000 sebelum Masehi. Pa-Ib berada di Barnum Museum, Connecticut sejak 1890.

Dalam penelitiannya, ilmuwan menganalisa berbagai benda yang tertinggal dalam tubuh mumi dengan bantuan peminda Toshiba 64-slice CT. Pemindai canggih ini sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit dalam tubuh manusia.

"Pemindai ini benar-benar memberikan pemandangan luar biasa soal mumi dan mengetahui ritual kuno dalam upacara kematian zaman dahulu," kata Professor Ronald Beckett dari Bioanthropology Research Institute, Quinnipiac.

"Setiap mumi memiliki kisahnya masing-masing. Setiap informasi yang didapat akan semakin menambah pemahaman kita terhadap kebudayaan Mesir kuno," tambahnya lagi.

Hasil temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Mesir kuno sangat percaya bahwa burung diyakini memiliki hubungan istimewa dengan Dewa Thoth, yaitu Dewa yang dipercaya memainkan peranan penting dalam menentukan akhir hidup seorang manusia. (rah)




Diposting oleh Benny's Sains Selasa, 09 Februari 2010 0 komentar



Jarum jam Doomsday Clock atau jam kiamat di New York akan dimajukan lebih cepat pada pukul tiga sore waktu setempat hari ini, dalam dua tahun terakhir.

Jam lonceng ini merupakan perumpamaan untuk mengingatkan manusia dan mempresentasikan seberapa dekatnya kita menghampiri bencana besar. Pengingat ini diwakili dengan sampainya jarum jam Doomsday Clock ke waktu pertengahan malam atau tepat jam 00.00.

Dilansir Telegraph, Kamis (14/1/2010), jam ciptaan para ilmuwan yang tergabung dalam Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) ini dibuat pada 1947, dua tahun setelah AS menurunkan bom atom pertama di Jepang pada Perang Dunia II. Kala itu, waktu Doomsday Clock pertama kali diatur tujuh menit menuju waktu tengah malam.

Sepanjang pergantian jajaran ilmuwan BAS yang juga termasuk di dalamnya Professor Stephen Hawking dan 18 penerima nobel sains ternama, waktu Doomsday Clock telah 18 kali diubah.

Percepatan waktu yang tercatat diantaranya pada 1953, waktu Doomsday Clock adalah dua menit menuju tengah malam. Saat itu Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet tengah memuncak. Pada 2007, jarum jam Doomsday Clock maju menjadi lima menit menuju waktu tengah malam. Percepatan ini merefleksikan gagalnya penyelesaian masalah senjata nuklir.

Pengaturan jam terbaru pernah dilakukan pada 1991 ketika Doomsday Clock diatur mundur ke waktu 17 menit menuju tengah malam. Saat itu AS dan Uni Soviet menandatangani perjanjian Strategic Arms Reduction Treaty.

Perubahan yang terjadi pada Kamis sore hari ini bisa disaksikan oleh publik pertama kalinya melalui web feed pada hari Jumat besok.

Juru bicara BAS menyebutkan ada banyak faktor yang mempengaruhi percepatan waktu Doomsday Clock akhir-akhir ini. Faktor perubahan tersebut di antaranya adalah pelucutan dan nonproliferasi nuklir, ekspansi kekuatan nuklir warga sipil, kemungkinan teror senjata nuklir serta perubahan cuaca. (rah)




Diposting oleh Benny's Sains Selasa, 02 Februari 2010 0 komentar

Subscribe here